oleh

Sensus Malam Sisir Tunawisma

MAJALENGKA – Badan Pusat Statistik (BPS) se-Indonesia secara serentak menggelar Sensus malam (census night) pada Selasa (15/9) dan Rabu (16/9). Sensus malam dilaksanakan untuk mendata penduduk yang tidak memiliki tempat tinggal tetap. Begitu juga BPS Majalengka. Sensus malam itu dimulai dengan briefing di aula BPS Majalengka Selasa (15/9) malam.

Dalam agenda tersebut, tim BPS dibantu petugas Dinas Sosial dan Satpol PP Kabupaten Majalengka. Sensus malam dibagi empat tim untuk mendata warga di Pasar Maja, Pasar Talaga, dan Pasar Cikijing, Pasar Cigasong dan Pasar Rajagaluh, Pasar Kadipaten dan Pasar Ciborelang, serta Bundaran Munjul dan Pasar Parapatan.

Kepala BPS Majalengka Drs Jerison Sumual MM menjelaskan, sensus malam atau disebut hari sensus adalah hari dimana BPS melakukan pendataan serentak. Khususnya terhadap penduduk yang tidak memilikitempat tinggal tetap mulai 15 September pukul 21.00 sampai 16 September pukul 06.00.

“Sementara penduduk yang bertempat tinggal tetap didata di rentang waktu 1 sapai 15 September 2020,” jelas Jerison.

Census Night dilaksanakan untuk menghasilkan satu data kependudukan yang valid dan terverifikasi. Prinsipnya menurut Jerison jangan ada masyarakat yang terlewat dan pencacahan ganda. Secara normal pencacahan dilakukan sampai 15 September, namun ada toleransi waktu untuk masyarakat yang sulit ditemui atau karena alasan zona merah pandemi Covid-19.

Menurutnya, BPS akan tetap menyisir penduduk yang belum terdata paling tidak sampai 25 September. Sementara sampai 15 September, BPS sudah memiliki prediksi penduduk Indonesia yang sudah dicacah oleh petugas sensus baik melalui online maupun pendataan langsung.

“Justru kegiatan sensus malam merupakan upaya mendata penduduk yang tidak memiliki tempat tinggal tetap,” pungkasnya.

Kasi Statistik Sosial BPS Majalengka, Ena Heriyana BSt menambahkan, sensus malam di Majalengka hanya melibatkan Satpol PP dan Dinas Sosial. Karena di Majalengka relatif lebih kondusif untuk melakukan pendataan.

Fokusnya menurut Ena, adalah pendataan tunawisma. Data penduduk hasil sensus nantinya bakal menjadi modal pemerintah untuk membuat berbagai kebijakan dan pembangunan.

“Tidak hanya tunawisma yang kami data, kami juga sudah mencatat 181 narapidana di Lapas Majalengka yang vonisnya minimal 1 tahun,” terang Ena. (iim)

News Feed