oleh

Pandemi, Adat Desa Digelar Terbatas

MAJALENGKA – Rangkaian kegiatan adat desa di Dusun Kaputren Desa Putridalem Kecamatan Jatitujuh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 membuat kegiatan yang dilakukan terbatas. Tokoh pemuda kampung Kaputren, Amien Halimi menyebutkan beberapa rangkaian kegiatan seperti peresmian balai kampung, sedekah bumi dan terakhir munjungan dilakukan secara terbatas.

“Untuk munjungan, biasanya kita melibatkan banyak orang dan dtutup dengan pagelaran wayang kulit di malam hari. Tetapi pandemi Covid-19 membuat kegiatan tidak diperbolehkan terutama menyangkut keramaian demi menghindari penyebaran virus corona,” sebut Amien, Jumat (16/10).

Meski demikian, Amien mengaku semangat warga untuk melestarikan nilai adat serta budaya tidak surut. Sehingga sebagai generasi penerus pemuda dapat melestarikan tradisi ini.

Semua pihak yang terlibat baik tokoh agama, pemuda dan pemerintah desa berdoa bersama agar kondisi bangsa cepat pulih kembali dan berakhirnya pandemi yang melumpuhkan semua sektor terutama perekonomian.

Terkait sedekah bumi, ia menjelaskan itu identik dengan menyambut musim tanam. Adapun munjungan yang dipusatkan di tempat pemakaman itu mengirim atau berbagi makanan.

Warga masing-masing membawa makanan sebagus mungkin. Zaman dulu belum ada alat komunikasi, saat orang merantau ke suatu daerah pulang membeli oleh-oleh.

“Namun sesampainya di rumah ia tidak tahu bahwa anggota keluarganya ada yang meninggal. Alhasil makanan untuk anggota keluarga itu dibawa ke tempat pemakaman,” tuturnya.

Meski demikian, Amien menyikapi itu sebagai adat istiadat untuk tetap di lestarikan sebagai budaya masyarakat. Doa bersama tetap menjadi prioritas untuk kemakmuran desa, serta sesi dialog kapan perencanaan musim tanam, pemilihan bibit dan seputar pertanian.

Sementara itu, Kepala Desa Putridalem, Endah Hendrawati mengatakan, prosesi rangkaian syukuran merupakan tradisi yang dilakukan secara turun temurun. Kegiatan tersebut termasuk adat dan tradisi masyarakat Desa Putridalem, dilakukan secara rutin setiap tahun.

Menurut dia, yang terpenting tujuan utama tradisi syukuran tersebut adalah mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan limpahan nikmat. Disamping itu dengan diadakannya rangkaian itu, warga Desa Putridalem dapat menjalin serta mempererat tali silaturahmi antar warga.

“Selama satu tahun, Desa Putridalem sendiri mengadakan ritual sebanyak tiga kali, pertama ketika Mapag Sri atau panen, kedua, Mapag Tamba, dan ketiga ketika Munjungan,” tandasnya. (ono)

 

News Feed