Majalengka Masuk Daerah Rawan Bencana, Bupati Karna: Kita Punya Dua Karakter Geografi yang Berbeda

oleh -10 views
Bupati Dr H Karna Sobahi MMPd didampingi sejumlah OPD terkait dan Pemcam Leuwimunding meninjau kondisi SD Mirat yang rusak akibat tertimpa pohon besar karena puting beliung, Senin (13/12/2021). (Foto: Ono Cahyono/Radar Majalengka)
Bupati Dr H Karna Sobahi MMPd didampingi sejumlah OPD terkait dan Pemcam Leuwimunding meninjau kondisi SD Mirat yang rusak akibat tertimpa pohon besar karena puting beliung, Senin (13/12/2021). (Foto: Ono Cahyono/Radar Majalengka)

MAJALENGKA – Bupati Majalengka Dr H Karna Sobahi MMPd bersama sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) meninjau langsung ke sejumlah titik yang terdampak bencana alam, Senin (13/12/2021).

Bupati Majalengka Dr H Karna Sobahi MMPd merasa prihatin atas rentetan musibah bencana alam terjadi di Kota Angin sejak beberapa hari terakhir ini, yang mengakibatkan rumah rusak diterjang longsor hingga puting beliung.

Bupati Majalengka Dr H Karna Sobahi MMPd mengungkapkan, wilayahnya termasuk daerah yang rawan bencana alam secara nasional dan Jawa barat.

Karena Majalengka terbagi dua wilayah yakni selatan yang memiliki karakter tanah berbukit bukit. Serta utara yang kerap rawan kekeringan saat musim kemarau.

“Kondisinya masyarakat tidak bisa dihindari, membangun rumah di tebing-tebing yang rawan longsor. Sedangkan ketika wilayah utara Majalengka kekeringan karena belum bisa memanfaatkan potensi air yang mengalir langsung ke wilayah Indramayu,” katanya.

Selain longsor, lanjut dia, wilayah selatan Majalengka juga berpotensi banjir, tepatnya di Cikijing karena debit air dari saluran air tidak kuat menampung.

Oleh sebab itu, dirinya mengaku memahami dua kondisi yang berbeda antara bencana longsor dan kekeringan ini. Maka, melalui BPBD dan Dinsos menyiapkan daya dukung sarana untuk memfasilitasi.

“Untuk rutilahu kita ada Dinas Rumkintan (PKPP), Dinsos memberikan bantuan terdampak bencana,” imbuhnya.

Ia mengakui untuk mengubah tatanan kehidupan masyarakat tidak mudah. Terutama pembangunan rumah-rumah di rawan bencana.

Padahal ketika hal yang paling pahit, pemerintah telah menyiapkan lahan namun tetap tidak mudah karena terjadinya tarik ulur antara pemerintah bersama masyarakat.

“Di sini tarik menarik antara pemerintah dan rakyat sangat sulit. Menyadari dihadapkan dengan bencana, maka kita siapkan antisipasi dan treatment terjadinya bencana. Kalau perbaikan rumah kita siapkan Baznas. Disamping memperkuat Dana BTT untuk mengantisipasi adanya korban yang menimpa rakyat,” tandasnya. (ono/radarmajalengka)

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.