MWC NU Banjaran Gelar Maulid Nabi di Makam Sunan Cipager, Siapakah Dia?

oleh -97 views
MWC NU Kecamatan Banjaran menggelar Maulid Nabi di Makam Syekh Faqih Ibrahim Blok Cipager Desa Cimeong Kecamatan Banjaran Kabupaten Majalengka, Kamis (2/12/2021). (Foto: Istimewa)
MWC NU Kecamatan Banjaran menggelar Maulid Nabi di Makam Syekh Faqih Ibrahim Blok Cipager Desa Cimeong Kecamatan Banjaran Kabupaten Majalengka, Kamis (2/12/2021). (Foto: Istimewa)

MAJALENGKA – Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka menggelar Maulid Nabi di Makam Syekh Faqih Ibrahim Blok Cipager Desa Cimeong Kecamatan Banjaran Kabupaten Majalengka, Kamis (2/12/2021).

“Syekh Faqih Ibrahim atau Sunan Cipager ini merupakan wali penyebar agama Islam dan pendiri pesantren tertua di wilayah Majalengka bagian selatan pada abad ke-15,” kata Ketua MWC Banjaran Kyai Hasan Basri.

Turut hadir sesepuh NU Dr KH Sarkosi Subki, Ketua MUI Majalengka KH Anwar Sulaiman, KH Endang Pamijahan, Kiai Umar Shobur Cisambeng, anggota DPRD Fajar Shidik, para muhibbin dan jamaah keturunan Sunan Cipager yang merupakan putra dari Waliyulloh Syekh Abdul Muhyi Pamijahan dan para kiai dari Ciwaringin Cirebon.

Ketua MUI Majalengka KH Anwar Sulaiman yang merupakan keturunan langsung Sunan Cipager memaparkan hal ini tidak terlepas terkait silsilah Kerajaan Talaga Manggung yang keturunannya dengan sejarah penyebaran agama Islam di wilayah Majalengka.

Terjadi pada abad 15 Masehi, di mana saat itu di wilayah Majalengka terdapat 3 kerajaan bercorak Hindu/Budha yaitu Kerajaan Sindangkasih dipimpin oleh Nyi Rambut Kasih, Kerajaan Rajagaluh dipimpin oleh Prabu Cakraningrat dan Kerajaan Talaga Manggung yang dipimpin oleh Prabu Pucuk Umum atau Raden Rangga Mantri yang merupakan cicit Raja Pajajaran Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja.

Anwar menjelaskan, Sunan Wanaperih atau Arya Kikis merupakan putra sulung dari Prabu Pucuk Umum dari Ratu Sunyalarang dan menjadi raja di Kerajaan Talaga Manggung 1553-1556 Masehi.

Mendirikan pesantren tertua di Majalengka serta memindahkan ibu kota Kerajaan Talaga, dari Sangiang ke Wanaperih yang termasuk wilayah Desa Kagok saat ini.

Setelah Ratu Sunyalarang meninggal dunia, Arya Kikis atau Sunan Wanaperih mendirikan pesantren dan mendatangkan guru mengaji Syekh Sayyid Faqih Ibrahim yang merupakan putra Syekh Abdul Muhyi dari Pamijahan Tasikmalaya. Makamnya berjarak 1 kilometer atau dikenal dengan Sunan Cipager.

Masa-masa pemerintahan Sunan Wanaperih diwarnai dengan perkembangan Islam yang pesat.

Di masa kepemimpinannya seluruh rakyat di Talaga Manggung telah menganut agama Islam. Semakin berkembang karena Sunan Wanaperih berputra 6 orang yaitu Dalem Cageur, Dalem Kulanata, Apun Surawijaya, Ratu Radeya, Ratu Putri dan Dalem Wangsa Goparana, keturunannya turut menyebarkan Islam bahkan sampai ke luar wilayah Majalengka.

Ratu Radeya menikah dengan Arya Saringsingan, sedangkan Ratu Putri menikah dengan anak Syekh Abdul Muhyi dari Pamijahan Tasik yaitu Syekh Sayyid Faqqih Ibrahim.

Mereka menjadi penyebar Islam disamping putranya Dalem Wangsa Goparana yang pindah ke Sagala Herang Cianjur dan keturunannya menjadi trah Bupati Cianjur seperti Bupati Wiratanudatar I dan seterusnya.

Acara selanjutnya diisi oleh ceramah dari KH Endang Ajidin Pamijahan, tahlil oleh KH Endang Iskandar Baribis dan doa ditutup oleh KH Sarkosi Subki atau Mama Oci dari Heuleut Kecamatan Kadipaten.

Kapolsek Banjaran Kompol Dundun Kusmalyadi mengatakan, pihaknya menyediakan alat cuci tangan, pengukur suhu dan membagikan masker gratis bagi para pengunjung.

“Oleh panitia dipasang imbauan protokol kesehatan ditempel di setiap sudut tempat strategis. Undangan para ulama diimbau tidak membawa jamaah, pengunjung juga dibatasi agar bisa social distancing,” tegasnya. (ara/rls)

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.