OPOP Bangun Kemandirian Pesantren

oleh -12 views
Iwan Setiawan Wawang, Koordinator Pendamping OPOP wilayah Ciayumajakuning

MAJALENGKA – One Pesantren One Product (OPOP) merupakan program unggulan gubernur Jawa Barat salah satu turunan program Pesantren Juara. Koordinator Pendamping OPOP wilayah Ciayumajakuning Iwan Setiawan Wawang mengatakan, program ini bertujuan untuk membangun kemandirian ekonomi pesantren. Yang mana ke depannya pesantren bukan hanya bisa ngaji saja tetapi bisa ngejo.

“Pesantren yang bisa ngaji kitab fikih dan bisa ngaji kitab sugih. Pesantren yang melek ekonomi dan melek teknologi,” jelasnya, Selasa (2/3).

Ia mengaku pada tahun 2020 kemarin program OPOP mendapat penghargaan dari Kemenpan RB RI sebagai 45 program inovasi pelayan publik. Penghargaan tersebut diberikan oleh Menteri Tjahyo kumolo dan diterima langsung oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Program ini menargetkan 5 ribu pondok pesantren (ponpes)  se-Jawa Barat dalam lima tahun masa kepemimpinan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum. Pada tahun 2019 ada 1.074 ponpes yang sudah mengikuti OPOP dan mendapatkan bantuan hadiah modal. Pada tahun 2020 ada 500 pondok pesantren yang telah mengikuti OPOP dan sudah mendapatkan bantuan hadiah modal.

“Target tahun 2021 adalah 1.000 pondok pesantren. Pada tahun 2019 dari Kabupaten Majalengka sendiri ada 45 pondok pesantren, dan 2020 ada 26 pondok pesantren yang telah mengikuti OPOP yang telah mendapatkan bantuan hadiah modal dan mendapatkan fasilitas pelatihan magang di pondok pesantren yang jadi role model,” paparnya.

Ia menambahkan selain bantuan modal dan fasilitas pelatihan magang, juga mendapatkan pendampingan selama mengikuti program tersebut. Adapun nominal bantuan modalnya bervariatif tergantung kategori usahanya. Tahap 1 untuk kategori start up atau pemula yang notabene usahanya baru berjalan 0 sampai 1 tahun itu sebesar Rp25 juta. Adapun kategori scale up atau usahanya sudah berjalan di atas 1 tahun sebesar Rp35 juta.

Sedangkan untuk tahap dua bantuan hadiah modalnya lebih besar yaitu dari Rp75 juta sampai dengan Rp200 juta. Dan tahap 3 yaitu Rp400 juta. Pesantren yang mengikuti OPOP bukan hanya mendapatkan hadiah saja, tetapi juga mendapatkan pelatihan, pemagangan, pendampingan, temu bisnis dengan offtaker/buyer dari perusahan perusahan.

“Selama program, mereka (pesantren) diberikan ilmu tentang bisnis, management, akses pemasaran, perizinan, packaging dan lainnya. Sebagai koordinator pendamping OPOP, saya mengajak ke pesantren-pesantren yang belum ikut opop untuk segera daftar online dan pendaftaran sudah dibuka dari Februari sampai tgl 31 Maret mendatang,” tandasnya. (ono/opl)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *