Pandemi Covid-19 Buat Orang Jadi Kesepian

oleh -7 views
FOTO. DOKUMEN
FOTO. DOKUMEN

JAKARTA – Selama pandemi Covid-19 kesehatan mental seseorang diuji. Dalam survei kesehatan mental yang dilakukan pada masyarakat Indonesia selama Mei-Juni 2021 menunjukkan hasil bahwa masyarakat merasa kesepian.

Bertepatan dengan Bulan Kesehatan Mental, Into The Light dan Change.org menghadirkan peneliti Andrian Liem, dari University of Macau sekaligus mitra Into The Light.

Ia mengatakan, survei ini dilakukan karena di Indonesia belum ada hasil evaluasi yang cukup komprehensif atas informasi dan layanan kesehatan mental, maupun literasi kesehatan mental yang dimiliki.

Baca juga: Sembuh dari Covid-19, Kemampuan Kognitif Terancam

Survei kesehatan mental ini diikuti secara daring oleh 5.211 responden yang mayoritas berdomisili di 6 provinsi di Pulau Jawa.

Latar belakang peserta survei beragam secara demografi, misalnya jenis kelamin, kelompok usia, kondisi disabilitas, ketertarikan seksual dan status HIV.

Berdasarkan hasil survei tersebut, stigma atau pandangan negatif terhadap bunuh diri masih sangat kuat.

Hal ini tercermin dari tidak ada partisipan yang menjawab seluruh pertanyaan tentang fakta dan mitos bunuh diri dengan benar.

“Misalnya saja partisipan menganggap bahwa menanyakan keinginan bunuh diri kepada seseorang akan memicu keinginan bunuh diri sebagai fakta. Padahal ini adalah mitos, justru menanyakan hal tersebut dapat membantu mencegah keinginan orang untuk bunuh diri,” kata Andrian dalam keterangan tertulis, Jumat (13/8).

Selain itu, ada hasil survei yang cukup mengkhawatirkan. Sekitar 98 persen partisipan merasa kesepian dalam sebulan terakhir, dan 40 persen memiliki pemikiran melukai diri sendiri maupun berpikir untuk bunuh diri dalam dua minggu terakhir.

Baca juga: Airlangga : Maksimalkan Potensi Daerah dan Percepat Penyerapan Anggaran Penanganan Covid-19

Lebih banyak partisipan survei meyakini anggota keluarga dan teman dekat berjenis kelamin sama sebagai sosok yang lebih membantu dalam mengatasi masalah kesehatan jiwa dibandingkan dengan tenaga kesehatan jiwa profesional.

“Keyakinan ini menunjukkan partisipan membutuhkan dukungan sosial. Tetapi perlu diingat bahwa tenaga kesehatan jiwa profesional lebih memiliki keahlian dalam menangani kesehatan mental dan dapat menjaga rahasia klien yang berkonsultasi,” jelas Andrian menanggapi hasil survei tersebut.

Hal ini juga selaras dengan hasil survei yang menemukan bahwa hampir 70 persen dari total partisipan mengaku tidak pernah mengakses layanan kesehatan mental dalam tiga tahun terakhir.

Alasan yang dominan adalah biaya layanan kesehatan mental dianggap tidak terjangkau.

Psikiatri yang aktif melayani pasien di Siloam Hospitals Bogor dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ, mengaku beberapa rumah sakit justru kewalahan untuk melayani pasien. Jumlah psikolog dan psikiater perlu terus ditambah untuk memenuhi kebutuhan di sini.

“Selain itu pemerataan kualitas juga diperlukan, karena bisa saja kualitas layanan berkurang karena beban pekerjaan yang terlalu besar. Perlu ada sistem yang menjaga di sini,” kata dr. Jiemi.

Baca juga: Cetak Biru Implementasi IMT-GT 2022-26, Tanggulangi Dampak Pandemi Covid-19

Menurutnya, jumlah kunjungan poliklinik kesehatan jiwa juga meningkat semasa pandemi, namun sebagian besar dari mereka sudah memiliki keluhan berat.


Ia berasumsi banyak di antara kita terbiasa menunggu gejala yang benar-benar berat baru mencari pertolongan kepada profesional kesehatan jiwa.

“Hal ini karena permasalahan kesehatan jiwa masih dianggap tidak seserius permasalahan kesehatan fisik, sehingga cenderung diabaikan,” kata dr. Jiemi. (jawapos)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.